Friday, June 19, 2015

Kebohongan Seorang Fotografer Untuk Menyelamatkan Sejarah Indonesia




Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diproses dan dipublikasikan secara luas

hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bicara jujur pada Jepang?

Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia merupakan peristiwa sakral dan mengharukan bagi bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut tentu tak akan terlupa dan tak ternilai harganya. Usaha untuk mencapainya sangatlah berat karena didahului dengan perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda. Oleh karena itu, setelah terlaksananya proklamasi tersebut, semua rakyat Indonesia merasa lega. Mereka merasakan kebebasan yang sudah diperjuangkan dan didamba-dambakan selama beratus-ratus tahun, hidup tanpa penjajahan. Peristiwa Proklamasi itu dapat membangkitkan semangat rakyat Indonesia untuk terus berjuang dan dapat memunculkan rasa cinta tanah air di jiwa setiap rakyat Indonesia.

Aminudin TH. Siregar menuturkan bahwa peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan monumen kolektif terbesar yang secara efektif didistribusikan ke setiap kepala manusia Indonesia agar terus menerus diingat. Setiap orang, di kampung-kampung, di kota, di jalan raya, di pusat perbelanjaan dikepung mitos kemerdekaan. Di mana-mana, orang bergotong-royong membangun gapura di mulut gang, jalan kecil lengkap dengan bambu runcing, lalu beberapa sekuel ilustrasi pejuang yang berlumuran darah. Heroik. Tak ada yang berubah darah, ikat kepala merah-putih, dan bambu runcing kepalang menjadi penanda (ikon) bagi konstruksi mitos tersebut. Surat kabar nasional menurunkan ironi biografi pejuang yang sekarang hidup miskin. Kemerdekaan, atau tepatnya momen kemerdekaan sebagai monumen ingatan sesungguhnya bersanding dalam satu sisi dengan monumen lupa.

Tentu, ingatan generasi sekarang akan jauh berbeda dengan ingatan generasi yang mengalami revolusi itu sendiri. Begitu pula kadar untuk melupakannya. Satu contoh ironi yang selalu dilupakan orang dalam “mengingat” peristiwa kemerdekaan adalah foto peristiwa proklamasi. Salah satu karya foto yang monumental dalam sejarah kemerdekaan Indonesia adalah foto yang dijepret oleh Frans Soemarto Mendur, seorang wartawan IPPHOS (Indonesia Press Photo Services).

Foto tersebut memuat adegan pembacaan teks proklamasi dan pengibaran bendera merah putih sebagaimana yang kita saksikan di dalam buku-buku sejarah perjuangan. Itu adalah satu-satunya foto yang menjadi dokumentasi terpenting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Sangat disayangkan dan sungguh ironis, tidak ada dokumentasi lain yang kita miliki seputar pemotretan proklamasi kemerdekaan selain jepretan Frans itu. Bayangkan kalau Frans luput menjepret. Jangan-jangan proklamasi kemerdekaan kita hanya berlalu dari mulut ke mulut.

Lalu siapakah Frans Mendur itu? Mungkin tak banyak rakyat Indonesia kenal dan tahu mengenai Frans Mendur, tidak sefamiliar nama Bung Karno atau Bung Hatta. Yah, namanya memang tak terlalu populer. Tapi jasanya akan (harus) selalu dikenang oleh rakyat Indonesia, karena berkat Frans, putra kelahiran Sulawesi Utara yang berusia 32 tahun itu, sejarah Indonesia tidak mati dan dapat dilihat oleh rakyat Indonesia pada jaman sekarang.

Frans Soemarto Mendur (1913-1971) adalah salah satu fotografer yang mengabadikan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945. Bersama Alexius Impurung Mendur, saudara kandungnya, Frans Mendur membuat sejarah Indonesia dapat tervisualisasikan dan dapat dilihat oleh generasi penerus bangsa Indonesia walaupun hanya beberapa jepretan saja.

No comments:

Post a Comment